Pendahuluan
Desa Malino, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Banggai Kepulauan, memiliki sejarah yang kaya dan perkembangan yang menarik. Buku ini akan membawa Anda dalam perjalanan melalui waktu, mulai dari awal pendiriannya hingga menjadi sebuah desa yang maju dan harmonis. Desa Malino menghadapi berbagai tantangan, tetapi semangat gotong royong, toleransi beragama, dan semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik selalu menjadi pendorongnya.
Bab 1: Awal Pendirian Desa Malino
- Migrasi dan Pembentukan Awal
Pada tahun 1979, sekelompok penduduk dari Desa Nulion, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan, memulai perjalanan mereka menuju Desa Malino. Kelompok ini terdiri dari 10 Kepala Keluarga yang dipimpin oleh Sinar Kadoang. Mereka memutuskan untuk bermigrasi ke Desa Malino dengan tujuan utama menanam berbagai jenis tanaman, seperti kacang tanah, umbi-umbian, kelapa, cokelat, dan cengkeh. Semangat gotong royong kuat menginspirasi mereka, bahkan dalam proses pembangunan rumah mereka bekerja sama. Pada hari Minggu, mereka melaksanakan ibadah secara bergiliran karena belum ada rumah ibadah di Desa Malino saat itu. Kelompok ini memiliki keyakinan agama Katolik.
Pada tanggal 16 September 1982, kelompok lain datang dari Kecamatan Buko, yang mencakup Desa Buko, Alani, Paisumatano, dan Tatarandang. Kelompok ini terdiri dari 2 Kepala Keluarga, Naftali Kapuung, Almarum, dan Salmon Tunggul, serta 8 pemuda dengan pimpinan Salmon Tunggul. Kelompok ini menganut agama Kristen Protestan dan tujuannya adalah menanam tanaman tahunan seperti kelapa, cokelat, dan cengkeh. Di tengah kesibukan membuka lahan pertanian, mereka sepakat untuk mendirikan perkampungan pada tahun 1982 dan memberinya nama MALINO, terinspirasi oleh keberadaan mata air yang jernih dan tetap mengalir saat musim kemarau. Perlu dicatat bahwa Sinar Kadoang sebelumnya pernah membuka perkampungan di Gorontalo dengan nama Malino.
Pada Januari 1983, kelompok lain datang dari Kecamatan Liang, Desa Tomboniki, Kabupaten Banggai Kepulauan. Kelompok ini terdiri dari 4 Kepala Keluarga dengan total 21 jiwa yang dipimpin oleh Talli Tallibas. Semua anggota kelompok ini beragama Islam dan berhasil beradaptasi dengan baik dengan kelompok sebelumnya.
Pada tahun 1983, umat Katolik membangun rumah ibadah darurat yang dipimpin oleh Pius Djorolan dengan nama Gereja Santo Fransiskus. Umat Muslim juga membangun musolla yang dipimpin oleh seorang Imam Jahudin B. Lalalomo, sedangkan umat Kristen Protestan dipimpin oleh Simina Yalani dengan nama Gereja Protestan Betlehem Malino. Ketiga organisasi agama ini hidup berdampingan dengan toleransi yang tinggi, seperti yang terlihat dari kunjungan saling pada hari raya keagamaan.
Bab 2: Pemerintahan Desa Malino
- Perjalanan Menuju Status Desa Definitif
Pada tahun 1984, pemerintah Desa Matanga mengakui wilayah Malino sebagai bagian dari Desa Matanga dengan menetapkan Malino sebagai RT 7 Malino. Meskipun kepala Desa Matanga pindah, status RT 7 Malino tetap tidak berubah.
Pada tahun 1995, pemerintahan Desa Matanga berakhir dan Syamsu Lambelu menjadi kepala Desa Matanga. Pada bulan Oktober 1995, Malino ditingkatkan menjadi Dusun V Malino dengan Kepala Dusun Pertama Sahip M. Tundu. Pada tanggal 4 April 1998, Kepala Dusun bersama-sama dengan masyarakat mengajukan permohonan kepada pemerintah Desa Matanga dan pemerintah Kecamatan Banggai untuk mengubah Malino menjadi Desa Definitif, tetapi belum ada realisasi.
Pengusulan pemekaran tersebut kembali diajukan pada tanggal 6 Agustus 2002, dan pemerintah Kecamatan Banggai mendukungnya, memerintahkan kelengkapan persyaratan pemekaran. Pada tahun 2003, Kepala Dusun Pertama melepaskan jabatannya kepada Masyarakat Malino. Pada tahun yang sama, masyarakat membentuk Panitia Pemilihan Kepala Dusun yang dipimpin oleh Jamaludin Ali dengan tiga calon yang mendaftar. Pada tanggal 3 Januari 2005, Panitia Percepatan Pemekaran Desa yang diketuai oleh Jamulidin Ali dan Yohanis Nonasi sebagai Sekretaris mulai bekerja.
Pada tanggal 7 Januari 2005, Kepala Dusun Terpilih bersama-sama melanjutkan perjuangan untuk pemekaran Desa. Pada tanggal 10 November 2007, tepat pada Hari Pahlawan, Dusun Malino diresmikan menjadi Desa Malino oleh Wakil Bupati Drs. Ehud Salamat berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banggai Laut Nomor Tahun 2007 Tentang Pemekaran Desa di Kabupaten Banggai Laut. Pada tanggal tersebut, juga dilantik Kepala Desa Malino yang pertama, yaitu SAHIP M. TUNDU.
Kepala Desa terpilih kemudian membentuk pengurus BPD. Pada tanggal tertentu, BPD membentuk Panitia Pemilihan Kepala Desa untuk masa bakti 2008-2014 dengan ketua Panitia, Sarifuddin Maudara. Namun, setelah beberapa waktu, ketua Panitia mengundurkan diri dan digantikan oleh Harsen Pisalemo. Pada tanggal 23 April 2008, dilaksanakan pemilihan Kepala Desa Malino dengan empat calon, yaitu Alfred Din Adaika, Harol Yalani, Tertulianus Djapaar, dan Sahip M. Tundu.
Setelah masa bakti berakhir, pada tanggal 15 Juni 2014, bertempat di Balai Desa Malino, dibentuk Panitia Pemilihan Kepala Desa untuk masa bakti 2014-2020. Struktur Panitia tersebut adalah sebagai berikut: Ketua Sarifuddin Maudara, Sekretaris Maylwan Nonasi, Bendahara Satriani S. Tunggul, serta anggota Habyr Abdul Bady dan Nelson Dalaman.
Pada tanggal 13 November hingga 30 Desember 2014, terjadi masa kekosongan Kepala Desa Malino, dan Bupati Banggai Laut menunjuk Sekretaris Desa Malino, An Tilomo Pelekan, sebagai pejabat Kepala Desa Malino berdasarkan Nomor SK 219 Tahun 2014. Pada tanggal 16 Juli 2014, Panitia Pemilihan Kepala Desa Malino menetapkan calon Kepala Desa Malino, yang terdiri dari 4 calon, yaitu Rukly Djunung, Harol Yalani, Sahip M. Tundu, dan Alfred Din Adaika.
Pemilihan Kepala Desa Malino dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus 2014, dan Sahip M. Tundu terpilih sebagai Kepala Desa Malino. Pada tanggal 30 Desember 2014, kepala Desa terpilih dilantik di BPU Kecamatan Banggai oleh Bupati Banggai Laut Bpk Hidayat Lamakarate, Msi.
Bab 3: Kehidupan dan Agama di Desa Malino
- Kemajemukan Agama dan Toleransi Beragama
Pada tahun 1983, umat Katolik membangun rumah ibadah darurat yang dipimpin oleh Pius Djorolan dengan nama Gereja Santo Fransiskus. Umat Muslim juga membangun musolla yang dipimpin oleh seorang Imam Jahudin B. Lalalomo, sedangkan umat Kristen Protestan dipimpin oleh Simina Yalani dengan nama Gereja Protestan Betlehem Malino. Ketiga organisasi agama ini hidup berdampingan dengan toleransi yang tinggi, seperti yang terlihat dari kunjungan saling pada hari raya keagamaan.
Bab 4: Masa Depan Desa Malino
- Visi dan Harapan
Dalam bab ini, kita akan merenungkan masa depan Desa Malino. Pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan pengelolaan lingkungan akan menjadi fokus yang penting dalam mencapai cita-cita tersebut. Masyarakat akan terus berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dan pemerintahan desa.
Selain itu, penting untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai gotong royong, toleransi beragama, dan persatuan yang telah menjadi ciri khas Desa Malino. Ini adalah aset berharga yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Dengan berbagai tantangan yang mungkin dihadapi, seperti perubahan iklim dan perkembangan ekonomi, Desa Malino akan terus berkembang sebagai komunitas yang dinamis dan berdaya. Masyarakatnya akan tetap menjadi pendorong perubahan positif dan pemimpin dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Bab 5: "Perjalanan Berkelanjutan"
- Melangkah Bersama Menuju Masa Depan
Di bab penutup ini, kita juga mengingatkan betapa pentingnya menjaga budaya warisan dan tradisi Desa Malino. Sejarah dan cerita-cerita dari generasi ke generasi harus dilestarikan agar tidak terlupakan. Upaya pemeliharaan dan dokumentasi warisan budaya lokal dapat menjadi proyek yang berkelanjutan dan merangsang pertumbuhan kebanggaan masyarakat terhadap akar mereka.
Selain itu, kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan juga menjadi perhatian utama. Dalam menghadapi perubahan iklim dan perubahan ekosistem, masyarakat Desa Malino dapat terlibat aktif dalam praktik-praktik berkelanjutan seperti pengelolaan hutan dan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Ini adalah langkah kunci dalam memastikan bahwa alam yang indah dan mata air jernih yang memberi nama desa tetap lestari untuk generasi mendatang.
Kita juga berharap bahwa kerja sama dengan desa-desa sekitar dan pemerintah daerah akan terus ditingkatkan. Dengan bersatu tenaga, Desa Malino bisa menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul dan meraih lebih banyak dukungan untuk proyek-proyek pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sebagai penutup, buku ini menggambarkan perjalanan panjang Desa Malino dari awal pendiriannya hingga menjadi sebuah komunitas yang maju dan harmonis. Semangat gotong royong, toleransi beragama, dan semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik adalah kunci kesuksesan desa ini. Kami berharap bahwa cerita ini akan terus mengilhami dan menjadi teladan bagi banyak komunitas di seluruh Indonesia.
Terima kasih kepada semua yang telah berkontribusi dalam mengabadikan sejarah dan perjalanan Desa Malino ini. Semoga buku ini tidak hanya menjadi catatan, tetapi juga panduan bagi semua yang ingin memulai atau melanjutkan perjalanan mereka dalam membangun komunitas yang lebih baik dan berkelanjutan.
Selamat kepada Desa Malino atas pencapaian-pencapaian yang luar biasa dan semangatnya untuk masa depan yang cerah. Mari bersama-sama kita melangkah menuju perjalanan berkelanjutan yang lebih besar, di mana kebahagiaan, keadilan, dan kemakmuran bagi semua penduduk Desa Malino dapat terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
Sekretaris Desa Malino.2015.Sejarah Desa Malino Kecamatan Banggai Selatan Kabupaten Banggai Laut Jilid dua.3 Januari 2015